HEADLINE NEWS

EKONOMI

POLITIK

BATAM

BINTAN

Inilah Daerah Bebas Badai Krismon

 

 

[caption id="attachment_6716" align="alignleft" width="290"]Masyarakat Badui Banten masih mempertahankan adat leluhur sehingga mereka bebas krisis ekonomi. foto: net Masyarakat Badui Banten masih mempertahankan adat leluhur sehingga mereka bebas krisis ekonomi. foto: net[/caption]

BANTEN - Bila masyarakat dunia termasuk Indonesia saat ini dilanda badai krisis ekonomi dan moneter (krismon), sepertinya itu tidak berlaku pada warga Badui di Banten. Mengapa?

 

Ekonomi masyarakat Badui hingga kini masih mempertahankan budaya leluhur yakni bercocok tanam di ladang-ladang huma. Aneka jenis tanaman pangan seperti padi gogo, pisang, hortikultura, palawija dan umbi-umbian selalu mereka tanam.

 

Warga Badui juga seharian beraktivitas di ladang. Bila ada hasilnya langsung dijual ke tengkulak maupun penampung, sebahagian disisihkan untuk disimpan sebagai cadangan. Jika musim panen tiba, barulah dijual ke pasar Rangkasbitung Banten. 

 

Pemuka adat yang juga Kepala Desa Kanekes Saija mengatakan warga Badui di pedalaman Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, hingga kini tak mengalami krisis ekonomi akibat dampak pelemahan nilai rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

 

"Kehidupan warga kami seperti biasa saja, karena masyarakat Baduy mengandalkan ekonominya dari hasil pertanian," kata Saija.

 

Menariknya pola bercocoktanam di ladang-ladang huma tersebut tanpa menggunakan pupuk kimia. Sebab pengunaan pupuk kimia itu dilarang oleh adat karena bisa menimbulkan kerusakan tanah.

 

Karena itu, mereka lebih mengutamakan pupuk organik dari sampah maupun sisa pembakaran ladang. Kebanyakan petani Badui bertanam di ladang perbukitan dan berpindah-pindah, sehingga lahan tanamannya subur.

 

"Sejak dulu hingga kini belum pernah dilanda krisis ekonomi maupun kelaparan, karena hasil bumi seperti padi huma untuk kebutuhan keluarga saja," katanya.

 

Ia menyebutkan, masyarakat Baduy yang diperkirakan jumlah penduduknya mencapai 11.000 orang itu sejak turun temurun mengandalkan ekonomi dari hasil bumi.

 

Saat ini masyarakat Badui masih tradisional dan tidak memiliki media elektronika maupun media cetak karena dilarang adat.

 

sumber: antara

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *