EKONOMI

NASIONAL

POLITIK

Potensi Pajak Shipyard Batam Diduga Menguap

 

[caption id="attachment_6682" align="alignleft" width="290"]Salah satu proyek shipyard yang banyak menyerap ribuan tenaga kerja. Kini industri ini di Batam berkurang dan membuat perekonomian lesu. net Salah satu proyek shipyard yang banyak menyerap ribuan tenaga kerja. Kini industri ini di Batam berkurang dan membuat perekonomian lesu. net[/caption]

BATAM - Pemerintahan di Batam kerap mengeluhkan berkurangnya pendapatan dari sektor perpajakan. Berbagai alasan selalu diungkapkan setiap tahunnya oleh para penguasa baik Pemko Batam maupun BP Batam.

 

Entah itu hanya siasat semata, atau ada dugaan lain. Yang pasti para pejabat terkait diduga kuat telah menari menikmati keuntungan dari besarnya potensi pajak di kota industri ini.

 

Batam yang dikenal dengan kota industri dan shipyard, ternyata menyimpan potensi pajak sangat dahsyat. Salah satunya dari sektor shypyard atau galangan kapal.

 

Meski dua tahun belakangan ini industri semacam itu mulai meredup akibat tergerusnya pasar oleh negara tetangga semisal Vietnam. Namun, alangkah lucunya bila selama di masa keemasan industri galangan kapal tersebut, kota ini kerap mengaku-ngaku selalu devisit PAD.

 

Berkaca dari statistik yang ada, industri shipyard berkembang begitu pesat sejak tahun 2000 hingga 2013. Sejalan dengan itu, tentulah pendapatan dari pajak utamanya PPn 10% sektor tersebut sangat melimpah.

 

Namun sangat disayangkan, ternyata Batam setiap tahun selalu mengalami devisit Pendapatan Asli Daerah (PAD). Bahkan instansi terkait dengan bangga merilis ke publik terkait merosotnya pendapatan.

 

Menanggapi itu, salah seorang praktisi industri shipyard yang telah malang melintang di beberapa negara mengatakan bahwa galangan kapal adalah bisnis sangat fantastis utamanya ketika produk kapal itu laku terjual.

 

"Dan pasti terjual, sebab sebelum pembuatan sudah dipesan oleh klien asal luar negeri. Pertanyaan saya, kemana pajak penjualan kapal selama ini?" ujar S kepada AMOK Group, Rabu (3/2/2016).

 

Ia mencontohkan shipyard Batamec, Nanindah dan lainnya. Kedua shipyard ini dahulunya sangat berjaya dengan pembuatan kapal. Produk yang dihasilkan sangat melimpah, bahkan tenaga kerja yang terserap pun puluhan ribu orang.

 

"Saya kasihan melihat pekerja sekarang, seharusnya para pekerja di Batam ini sudah bisa merasakan seperti negara luar. Mereka nganggur pun dibayar. Dari mana, ya dari pajak penjualan kapal itu," ujarnya sambil memetik gitar akustik kesayangannya.

 

"Katakan aja kapal terkecil tugboat itu harganya sudah mencapai Rp2-5 milyar per unit. Kalau tanker, kargo, crane bus, dan modul, rig dan kapal sapi yang dibuat shipyard Nanindah dan Batamec itu bisa laku hingga Rp6 triliunan per unit," lanjutnya sambil memandang prihatin para pengangguran di bilangan Batuaji.

 

Selama bertugas di Kazakstan dan Dubai, S menyebut bahwa pendapatan negara dari sektor pajak industri shipyard cukup besar. Bahkan sampai-sampai kedua negara itu bisa menggaji para pengangguran.

 

"Selama saya di Batam dan baca media lokal, kok tiap tahun selalu yang dimunculkan dan diagung-agungkan selalu soal devisit PAD. Kemana itu pajak shipyard, apa jangan-jangan pajak ini nggak digarap," pungkasnya. (amok group)