EKONOMI

NASIONAL

POLITIK

GNPF-MUI: Mereka Tidak Rela Umat Islam Indonesia Bangkit dan Bersatu

 

 

JAKARTA - Saat ini ada gerakan massif yang dilakukan para penganut sekulerisasi, pluralisasi, liberalis (Spilis), syiah, komunisme dan kaum munafikin untuk merontokkan satu persatu eksponen Aksi Bela Islam 411 dan 212.

 

Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI, Ustaz Bachtiar Nasir menegaskan gerakan tersebut mulai dari kriminalisasi terhadap Habib Rizieq Shihab, penikaman umat Islam oleh ormas yang dipelihara Kapolda Jabar, hingga pengadangan Wasekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Tengku Zulkarnain di bandara Sintang Kalbar.

 

"Ini gerakan yang nyata dan akan terus mereka lakukan. Mereka tidak rela izzah (kebangkitan) dan persatuan umat Islam Indonesia," kata Bachtiar Nasir di acara Shubuh Berjamaah di Masjid Al Azhar, Minggu (15/1/2017).

 

Izzah Islam yang diturunkan oleh Allah kepada umat Islam yang telah dinikmati oleh muslim Indonesia saat ini kata Bachtiar dipahami secara gagal oleh kaum Munafik dan sebagian besar Non muslim.

 

Aksi umat Islam di Indonesia belakangan tidak seperti dituduhkan mereka. Seolah-olah akan makar, teroris hingga seperti tuduhan Megawati Soerkarno Putri bahwa Islam sebagai ideologi tertutup bahkan umat Islam sebagai peramal masa depan.

 

Bachtiar berpesan kepada Presiden, umat Islam di Indonesia sudah ingin bersatu sudah sangat kuat. Tapi kenyataannya ada kekuatan yang ingin merontokkan satu persatu para ulama dengan ghirah umat Islam yang sedang muncul ini.

 

"Ingat kepada mereka yang ingin melemahkan umat, kekuatan ini tidak bisa dibendung. Izzah Islam mereka mencintai Allah dan mencintai serta santun kepada sesama umat Islam, siap berjihad di jalan Allah, dan tegas kepada non-Muslim," ujarnya.

 

Ini sebagaimama yang disampaikan Allah di dalam Alquran. Maka, kata dia, kalau umat Islam ingin mengembalikan supremasi kekuatan Islam di Indonesia, "saya ingin pesankan pertama ini bukan soal khilafah dan soal imarah. Ini perlu saya tegaskan karena ada yang disalahpahami oleh aktivis Islam," katanya.

 

Sebab, menurutnya ghirah Islam ini kalau tidak dikelola dengan baik maka akan terjadi gagal paham. Revolusi ummat Islam ini bukan kekerasan merusak fasilitas dan menggulingkan pemerintah. Tapi ummat Islam ingin meraih kembali harga diri dan kehormatannya melalui pemilihan yang sah, dan ingin keadilan bagi mereka yang merendahkan agama Islam.

 

Ia mengingatkan, selama ini, kondisinya gerakan liberal dan kapitalis sudah mengambil dan menjajah separuh indonesia. Sekarang masuk lagi komunis yang ingin mengambil setengahnya. Karena itu izzah Islam yang telah tumbuh saat ini harus dijaga untuk melawan kekuatan kekuatan itu.

 

Semangat ini harus dipelihara seperti semangat shalat Shubuh di masjid masjid yg kini jumlahnya hampir sama dengan shalat jumat. Ini sudah terlihat dan mereka akan menjadi pasukan Shubuh.

 

"Mudah-mudahan kita semua konsisten untuk tidak pernah lagi memilih calon pemimpin kafir dan munafik. Jadi calon pemimpin islam dan yang memimpin negara ini kuncinya kalau mau barokah cukup dekat dengan rakyat," ujar Sekjen Majelis Intelektual Ulama Muda Indonesia ini. (wan)

 

Sumber: GNPF-MUI Media Centre