EKONOMI

NASIONAL

POLITIK

'Si Putih' Bikin Langsing Kami

Pak Kapoldasu Tolong Tangkap Pengedar Sabu di Pasar 6 Sampali Pematang Johar


DELI SERDANG - Miris melihat pemuda di Pasar 6 Sampali, Desa Pematang Johar, Kecamatan Labuhan Deli, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Nyaris semua pemudanya telah mengkonsumsi narkoba jenis sabu-sabu.

Bila dahulu para anak-anak desa ini sibuk mencari rezeki untuk membantu para orangtuanya seperti mencari upahan mengarit padi, menderes kebun coklat, kebun tebu dan ada juga mengembala ternak warga.

Namun kini anak muda generasi desa dan harapan bangsa tersebut, lebih suka berkumpul dan menghabiskan waktu ber jam-jam bersama teman-teman sebaya untuk menikmati hidup sesaat ini dengan mengkonsumsi narkoba semisal ganja, sabu-sabu dan ineks atau pil ekstasi.

Bahkan tak sedikit dari mereka memilih profesi sebagai agen alias pengedar barang haram. Tak ayal banyak anak-anak muda di desa yang subur itu kini telah kecanduan narkoba.

Akibatnya, kini sikap para pemuda yang dahulunya ramah, sudah berubah menjadi acuh tak acuh. Ironisnya lagi, anak muda ini tak segan-segan menunjukkan dirinya baru saja mengkonsumsi narkoba kepada setiap orang yang dikenal.

"Kalau gajian kami langsing, soalnya ada si putih. Jadi nggak perlu makan lagi," kata I, salah satu pemuda di desa Pematang Johar kepada kepriupdate.com, Jumat (1/5/2015).

Si putih di sini dimaksudkan ialah sebutan untuk serbuk kristal bening sabu-sabu. Ya, menurut pengakuan pemuda tadi narkoba jenis ini bisa membuat efek kenyang meski pun tidak makan selama berhari-hari.

Tak sedikit pula mereka memperoleh sabu yang bisa membuat efek halusinasi berlebih. Seperti rasa kecemasan dan ketakutan kepada setiap objek yang bergerak.

"Ada kucing yang sedang berkelahi saja dibilang polisi mau nangkap mereka. Kasihan anak muda dan orang tuanya. Pak polisi tolong dong ditangkapi bandar narkoba di desa kami," pinta salah seorang ibu muda bernama Siti.

Ia berkisah, 15 tahun lalu desa mereka dikenal dengan gudang generasi muda yang berkhalak tinggi dan berprestasi. Baik dalam bidang ilmu agama hingga teknologi. Selain itu anak mudanya senang bersosialisasi, bergotong-royong dan saling menghargai antar sesama.

"Kini anak muda di sini menganggap orang tua dan masyarakat yang usianya di atas adalah manusia kuno. Mereka lebih senang menyendiri dan berkumpul sesama pemakai, makanya anak saya ini selalu saya larang main-main takut terpengaruh sama mereka," katanya.

Bahkan sankin ketakutannya, para orang tua bercita-cita memasukkan anaknya di pesantren. Hal ini tak lain sudah semakin rusaknya kondisi lingkungan di desa mereka.

"Di sini jual sabu seperti jual kacang goreng dan terang-terangan di depan umum, di depan musallah saja mereka berani, pokoknya ngerih lah. Pak Kapolda tolong tangkap bandar sabu di desa kami ini. Sebab kami takut anak kami rusak (jadi pecandu, red), mau berapa pun duit tak akan cukup mengobatinya. Rusak fisiknya, rusak masa depannya dan tentunya pupus harapan kami sebagai orang tua," pungkasnya.(redaksi)