EKONOMI

NASIONAL

POLITIK

Inilah Jeritan Hati Pedagang Seken di Batam

 

 

[caption id="attachment_6938" align="alignleft" width="290"]Barang seken loud speaker terlihat terpajang di kawasan Sengkuang. foto:ist Barang seken loud speaker terlihat terpajang di kawasan Sengkuang. foto:ist[/caption]

BATAM - Kota Batam terkenal sebagai surganya produk seken impor eks Singapura. Sangkin tersohornya para pelancong luar daerah bahkan mengaku tidak afdol apabila belum berkunjung ke pasar seken.

 

Selain menawarkan harga cukup terjangkau, produk-produknya juga beragam dengan kualitas terjamin. Tak jarang barang tersebut telah langka. Maka tak mengharankan para pembeli selalu ramai.

 

Namun belakangan pelaku usaha barang elektronik seken eks Singapura ini mulai mengeluh akibat sepi pembeli. Seperti misalnya para pedagang di bilangan Tanjungsengkuang, Batam.

 

Lokasi ini biasanya ramai pembeli. Namun sekarang seperti kampung mati. Maklum saja para pengunjungnya bisa dihitung pakai jari.

 

Pantauan kepriupdate.com di lapangan, terlihat cukup sepi para pengunjung. Kami pun berbincang dengan Wadi (23), pedagang elektronik loud speaker second.

 

Usut punya usut para pedagang ini mengakui bahwa sepinya pembeli akibat anjloknya nilai tukar rupiah pada dolar Amerika.

 

"Dolar naik pengaruhnya besar kali. Tadinya satu hari ada 6 sampai 8 orang pembeli. Sekarang cuma 2 sampai 3 orang aja. Itupun sekali-kali. Kadang ga ada yang beli sama sekali," ujar Wadi.

 

Beruntungnya, dia masih ada menyimpan stok lama sekitar satu tahun yang lalu sehingga tidak terlalu merugikan. Tapi sayangnya kalau persediaan tersebut sudah hampir habis, dia bingung. Sebab barang-barang yang mau diimport, sudah dibatasi.

 

"Inipun aku ga tau nanti kalau barangnya habis mau kayak mana lagi. Mau impor pun udah payah. Selama dipimpin presiden baru Pak Jokowi ini, semua aktivitas impor dibatasi. Semuanya ini masih barang stok lama," tuturnya.

 

Namun demikian, dia juga tidak menaikan harganya. Sebab, itu akan membuat pembeli semakin berkurang. Dia juga mengeluhkan tentang kepemimpinan Presiden Jokowi.

 

"Semuanya masih kami jual normal. Ga kami naikan harganya. Tapi itulah, pembelinya berkurang. Selama dipimpin presiden baru ini, semuanya naik. Kegiatan import barang juga dibatasi. Parah kali ekonomi dibuatnya," keluhnya.

 

Sementara Dullah (44) pedagang tv seken juga merasakan demikian. Terlebih tentang kepemimpinan Presiden Jokowi.

 

"Payah kali sekarang selama presiden baru. Semua dibatasi. Presiden baru buat rakyat susah. Dollar naik lah, pembeli juga sepi," kata Dullah.

 

Ia menceritakan, biasanya dia mampu menjual tv sampai 15 unit per hari. Tapi sekarang belum tentu satu hari ada yang terjual.

 

"Padahal ini stok lama. Barang kami juga pernah ditahan karena ngga boleh impor. Susah kali presiden baru ini," jelasnya.

 

Seperti kita ketahui, sekarang ini dollar berada sekitar hampir Rp 14.800. Ini menunjukan semakin sulitnya para pedagang untuk menjual semua barang-barangnya.

 

Semoga saja hal ini tidak berlarut dan dapat diatasi oleh pemerintahan Jokowi dan Jusuf Kalla. Bagaimana pun juga perekonomian rakyat seperti yang dilakukan Dullah dan Wadi, mampu membuka lapangan kerja. (alfie syahrie)