BATAM

NASIONAL

EKONOMI

POLITIK

SPORT

Curah Hujan Terus Menipis, Warga Batam Diimbau Hemat Air


BATAM - Badan Pengusahaan (BP) Batam menaruh perhatian serius pada topan Kammuri yang melanda Filipina. Pasalnya topan tersebut menyebabkan minimnya curah hujan yang akan mengurangi jumlah air baku di sejumlah waduk.

Binsar Tambunan, Kepala Kantor Pengelolaan Air dan Limbah BP Batam mengatakan kemunculan topan Kammuri tersebut sudah diketahuinya sejak awal. Untuk itu, pihaknya bersama BMKG dan PT Adhya Tirta Batam (ATB) secara intensif melakukan koordinasi.

“Saat ini keadaan waduk yang ada kondisinya sudah menurun hingga 3 meter dari spillway atau permukaan air di waduk,” ungkap Binsar, Kamis (5/12/2019).

Menurut Binsar, waduk Duriangkang spill overnya di 7,5 meter, namun saat ini minus 2,7 meter. Sementara waduk Sei Harapan berada di bawah 2 meter.

Pihak ATB juga telah mewarning mengenai level permukaan air yang semakin lama semakin turun. Kondisi ini pun membuat BP Batam dan lintas institusi memberikan peringatan terkait kondisi kekurangan air di Batam.

“Kami mengimbau kepada masyarakat Batam untuk bisa berhemat air. Jika tidak, tahun 2020 mendatang, akan terjadi pendistribusian air secara bergiliran atau rationing,” imbuhnya.

Sementara itu, Direktur Engineering ATB, Paul Bennettt mengatakan, jika curah hujan turun maka dampaknya ke waduk. Meski awal tahun ini hampir penuh, namun kemudian seluruh waduk kembali surut.

“Ini terjadi seiring penggunaan air di Batam yang meningkat. Jika terjadi penurunan air di Dam Duriangkang, maka rationing akan kami lakukan terutama di pelanggan WTP Tanjung Piayu,” kata Paul.

Ia menjelaskan jika Waduk Duriangkang mengalami penurunan, dampaknya akan dirasakan 70 persen warga Batam. Menyusul 74 persen kebutuhan air bersih disedot dari WTP Duriangkang.

Sementara itu Kepala Stasiun Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kelas I Hang Nadim Batam I Wayan Mustika mengatakan, anomali cuaca yang disebabkan oleh kemunculan Topan Kammuri membuat curah hujan yang ada di wilayah Batam dan Kepri mengalami kemunduran.

“Sebenarnya untuk di wilayah Kepri, sepanjang tahun curah hujannya sangat banyak. Namun ada hal-hal tertentu yang mempengaruhi kenapa di wilayah kita mengalami kekurangan curah hujan dan tidak seperti normalnya,” jelas Wayan.

Ia juga memprediksi di awal 2020 Batam dan Kepri akan mengalami kekurangan curah hujan. “Topan Kammuri menyebabkan semua angin yang membawa masa uap air tersedot ke arah Afrika. Sehingga curah hujan di Kepri menjadi terganggu,” pungkasnya.

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *