EKONOMI

NASIONAL

POLITIK

Kezaliman Makin Merajalela di Indonesia, Allah Subhanawata'ala Pasti Membalas



KEZALIMAN makin merajalela di Indonesia akhir-akhir ini. Salah satunya pembantaian pada umat Islam yang berseberangan politik dengan rezim. Celakanya para cerdik pandai yang selama ini lantang bersuara justru tutup mata menyaksikan kezaliman tersebut.

"Kita sedang berada pada masa, kita bisa merasakan sesuatu, tapi tidak mampu untuk mengutarakannya," Ibunda Hj. Azlaini Agus, SH., MH. Dosen Fakultas Hukum Universitas Islam Riau. Mantan anggota DPR-RI (2004-2009). Mantan komisioner Ombudsman RI.
Pengurus teras Forum Komunikasi Pemuka Masyarakat Riau, seperti dikutip dari facebook Ustad Abdul Somad Official.

Yakinlah, kezaliman memiliki batasannya dan batasannya adalah hukuman yang Allah SWT berikan kepada pelaku kezaliman baik di dunia maupun di akhirat. Namun, yang seringkali luput dari pengamatan si zalim adalah hukuman yang Allah berikan kepada pelaku zalim bersifat tiba-tiba. Sedangkan pelaku kezaliman masih asik dengan berbagai macam kezalimannya.

Fir’aun ditenggelamkan oleh Allah SWT di laut merah ketika dia sedang berada pada puncak kezalimannya. Penenggalaman Fir’aun adalah akibat dari pupuk-pupuk kezaliman yang ditaburkannya ke singgasana kekuasaaannya. Dimulai dari memperbudak Bani Israil, menzalimi mereka selama berpuluh-puluh tahun dan mendaku sebagai tuhan. Membunuhi anak laki-laki yang lahir dari kalangan Bani Israil setelah dia mendapat mimpi.

Kezalimannya terus berlanjut ketika Musa datang kepadanya dan memperingatkan dirinya akan perbudakan yang dia lakukan terhadap bai Israil. Bukannya malah sadar, Fir’aun kemudian menuduh Musa dengan tuduhan yang macam-macam. Musa dituduh penyihir, pembuat onar, ingin memecah persatuan dan tuduhan-tuduhan lainnya.

Jika kita melihat pola yang terjadi kepada Fir’aun, maka polanya bisa kita sederhanakan seperti ini. Fir’aun berbuat zalim dengan kekuasaan yang dia miliki, Allah mengutus Musa dan Harun untuk mengingatkannya, Fir’aun semakin menjadi-jadi dalam berbuat zalim kepada nabi Musa dan Bani Israil. Akhir cerita Allah menenggelamkan Fir’aun ketika dirinya berada di puncak kezalimannya. Allah SWT berfirman:

فَأَخَذْنَاهُ وَجُنُودَهُ فَنَبَذْنَاهُمْ فِي الْيَمِّ فَانظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الظَّالِمِينَ

Artinya, “Maka Kami hukumlah Fir’aun dan bala tentaranya, lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut. Maka lihatlah bagaimana akibat orang-orang yang zalim.” (QS Al-Qoshosh : 40)

Pelajarannya adalah, Allah pasti membalas pelaku kezaliman, meskipun terkadang terlihat dalam satu waktu Allah membiarkan pelaku kezaliman merajalela dengan kezalimannya. Semakin banyak dan massif kezaliman yang dilakukan, maka do’a-do’a orang yang terzalimi akan mengetuk pintu-pintu langit. Sehingga ketika sudah mencapai nishabnya Allah akan hukum dan hinakan pelaku kezaliman karena deposit kezaliman yang dia lakukan. Rasulullah SAW bersabda:

اتَّقُوْا الظُلْمَ؛ فإنَّ الظُلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ القِيَامَة

Artinya, “Takutlah kalian terhadap kezaliman, karena kezaliman nantinya akan menyebabkan kegelapan pada hari kiamat.” (HR Muslim)

Mengomentari hadits di atas Ibnul Qayyim Al Jauziyah berkata, “Subhanallah, saat seorang zalim bergelimang kenikmatan, berapa banyak air mata para janda mengalir karenanya, berapa banyak hati anak yatim terbakar olehnya dan berapa banyak air mata fakir miskin mengalir disebabkan karena kezalimannya.” (Badaiul Fawaid 3/762)

Salah satu di antara dosa yang Allah segerakan hukuman bagi pelakunya adalah kezaliman. Allah SWT berfirman:

سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ ۝ وَأُمْلِي لَهُمْ إِنَّ كَيْدِي مَتِينٌ


Artinya, “Kami akan menarik mereka dengan berangaur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui (182) Dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat teguh.” (QS Al-A’raf : 183-183)

Imam Hafidz Ibnu Rajab Al-Hanbali berkata:

الغالب أن الظالم تعجل له العقوبة في الدنيا وإن أمهل فإن الله يملي له حتى إذا أخذه لم يفلته

Artinya, “Yang sering terjadi adalah pelaku kezaliman akan disegerakan hukumannya di dunia meskipun Allah memberinya tenggat waktu. Karena Allah memberinya kelonggaran sehingga ketika Allah menghukumnya dia tidak akan selemat (dari hukuman Allah).”