EKONOMI

NASIONAL

POLITIK

Lestarikan Budaya Lewat Kaligrafi Tionghoa

 

 

[caption id="attachment_8090" align="alignright" width="290"]Aseng, seniman kaligrafi Tionghoa di Vihara Bhakti Windsor Nagoya Batam. foto: alfie/kepriupdate Aseng, seniman kaligrafi Tionghoa di Vihara Budhi Bhakti Windsor Nagoya Batam. foto: alfie/kepriupdate[/caption]

BATAM - Seni kaligrafi tak hanya identik dengan tulisan Arab, tapi juga China. Di Kota Batam seniman kaligrafi Tionghoa tergolong langka, hanya segelintir orang saja yang rela menggeluti usaha ini, salah satunya ditekuni Aseng.

 

Pria yang sehari-hari mangkal di Vihara Budhi Bhakti, di kawasan Windhor, Nagoya Batam. Ia tekun menulis hiasan kaligrafi China di lampion pesanan para pengunjung Vihara.

 

Dalam melayani pengunjung, Aseng hanya memberikan jasa penulisan kaligrafi di lampion. Sedangkan lampion yang hendak dihias, dibeli namun ada juga yang dibawa masing-masing pengunjung.

 

Isi tulisan kaligrafi di lampion, umumnya berisi doa-doa keselamatan atau kalimat ucapan perayaan tahun baru Imlek. Tiap menjelang datangnya tahun baru Imlek, jumlah pengunjung Vihara yang memesan kaligrafinya meningkat, namun tidak semua permintaan bisa dilayani, karena menulis kaligrafi membutuhkan waktu relatif lama.

 

Dalam satu hari, Aseng rata-rata hanya mampu menyelesaikan lukisan kaligrafi China untuk dua lampion. Atas jasanya itu, Aseng tak pernah berharap mendapat imbalan materi berlimpah, karena para pemesan dibebaskan memberi uang jasa dengan suka rela.

 

"Saya sudah mengabdi di sini selama 10 tahun. Tapi untuk jadi seniman kaligrafi ini baru sekitar empat tahunan bang," kata Aseng kepada kepriupdate.com, Rabu (3/2/2016).

 

Meski imbalan materi yang diperoleh tidak seberapa, Aseng mengaku akan menekuni profesinya ini untuk selamanya.

 

"Tujuan saya ibadah sekaligus melestarikan tradisi seni kaligrafi China dan bisa berbagi kesenangan dengan banyak orang," pungkasnya. (alfie)